Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Lifestyle

Tentang Secangkir Kopi dan Dialog yang Belum Selesai

16
×

Tentang Secangkir Kopi dan Dialog yang Belum Selesai

Share this article

Tadi sore, saya duduk di sebuah sudut kedai kecil masih di sekitaran kota cimahi. Di depan saya, kepulan uap dari cangkir kopi mulai menipis, kalah oleh udara dingin yang perlahan turun. Saya memperhatikan orang-orang di sekitar; ada yang sibuk dengan jempolnya di layar ponsel, ada yang tertawa keras dengan teman bicaranya, dan ada yang matanya kosong menatap jalanan.

Momen-momen seperti ini sering kali membuat saya berpikir: kapan terakhir kali kita benar-benar hadir untuk diri kita sendiri?

ads
Example 300x600

Riuh yang Kita Ciptakan Sendiri

Kita hidup di era di mana “sibuk” adalah sebuah medali kehormatan. Kalau tidak sibuk, rasanya ada yang salah. Kita mengisi setiap celah waktu kosong dengan kebisingan—musik di telinga saat di jalan, podcast saat bekerja, hingga scrolling tanpa henti sebelum memejamkan mata.

Padahal, ada sebuah kejujuran yang hanya muncul saat suasana hening. Saat tidak ada notifikasi yang memanggil, saat tidak ada target yang mengejar. Di sana, kita mulai bisa mendengar suara hati yang selama ini tertimbun tumpukan pekerjaan.

Menghargai Jeda

Saya teringat sebuah percakapan dengan kawan lama. Dia bilang, “Kadang kita perlu hilang sebentar untuk benar-benar ditemukan.” Awalnya saya pikir itu hanya kalimat puitis tanpa makna. Namun, semakin ke sini, saya sadar bahwa jeda adalah bagian dari ritme. Seperti musik, tanpa spasi antar nada, yang terdengar hanyalah kebisingan yang menyakitkan telinga.

Memberi ruang untuk diri sendiri bukan berarti kita egois atau anti-sosial. Justru, itu adalah cara kita mengisi kembali gelas yang sudah kosong agar bisa kembali berbagi dengan orang lain. Tentang bagaimana cara kita berhenti sejenak untuk melihat ke dalam, saya pernah menulis sedikit lebih dalam mengenai seni menemukan diri yang mungkin bisa jadi teman renungmu hari ini.

Menutup Hari dengan Syukur

Malam ini, sebelum Anda memejamkan mata, cobalah untuk tidak menyentuh ponsel selama sepuluh menit saja. Duduklah di tepi tempat tidur, tarik napas dalam-dalam, dan rasakan kehadiran Anda sendiri.

Mungkin akan terasa aneh pada awalnya. Mungkin akan ada rasa gelisah yang muncul. Tapi bertahanlah. Karena di balik gelisah itu, ada ketenangan yang sudah lama menunggu untuk Anda sapa kembali.

Hidup ini terlalu indah untuk dilewati dengan terburu-buru. Mari belajar untuk sesekali berhenti, bernapas, dan kembali jatuh cinta pada hal-hal kecil yang ada di depan mata.

Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *