Ada sebuah perasaan aneh yang selalu muncul setiap kali saya kembali melintasi batas Kota Cimahi setelah bepergian jauh. Bukan sekadar tentang papan selamat datang atau barisan pohon yang khas, tapi tentang rasa akrab yang merayap di dada. Seolah-olah kota ini adalah sebuah rumah besar yang selalu memaafkan langkah-langkah kita yang lelah.
Kita sering kali berambisi mengejar hal-hal besar di luar sana, namun pada akhirnya, yang kita cari hanyalah tempat di mana kita bisa menjadi diri sendiri tanpa perlu berpura-pura.
Mencari Suaka di Tengah Hiruk Pikuk
Di balik predikatnya sebagai kota yang padat, Cimahi menyimpan banyak suaka tersembunyi. Mungkin itu adalah sebuah bangku taman di bawah pohon rindang, atau sebuah kedai kopi kecil yang tidak terlalu bising di sudut gang. Di tempat-tempat inilah kita biasanya belajar untuk berdamai dengan kebisingan dunia.
Kadang-kadang, saat pikiran terasa terlalu penuh, saya memilih untuk berjalan tanpa tujuan yang pasti. Saya membiarkan kaki melangkah, melihat interaksi sederhana warga lokal, dan menyerap energi dari sekitar. Menariknya, sering kali kita baru bisa melihat keindahan sebuah tempat saat kita benar-benar hadir secara utuh di sana. Saya teringat sebuah perenungan saat sedang berjalan sore, tentang betapa pentingnya bagi kita untuk mampu menemukan kedamaian di balik riuh jalanan agar hidup terasa lebih berimbang.
Dialog yang Tersembunyi
Kota ini seperti seorang pendengar yang baik. Ia tidak memberikan jawaban instan atas masalah kita, tapi ia menyediakan ruang untuk kita berpikir. Saat kita melewati jalanan yang sama setiap hari, kita sebenarnya sedang membangun memori. Setiap sudut jalan punya cerita; tentang kegagalan yang pernah kita tangisi atau keberhasilan kecil yang kita rayakan dengan seporsi kuliner lokal.
Itulah mengapa “pulang” selalu terasa magis. Ia bukan hanya tentang perpindahan raga, tapi tentang menyelaraskan kembali ritme jantung kita dengan tempat yang membesarkan kita.
Menghargai Waktu yang Berjalan
Dunia mungkin akan terus berubah, dan Cimahi mungkin akan semakin modern dengan segala pembangunannya. Namun, bagi saya, jiwa sebuah kota tetap ada pada bagaimana ia mampu membuat warganya merasa aman untuk diam sejenak.
Malam ini, cobalah berdiri di depan jendela atau teras rumahmu. Rasakan hembusan angin malam yang sedikit dingin, dengarkan suara kejauhan yang mulai samar, dan tersenyumlah. Kamu sedang berada di tempat yang tepat, di waktu yang tepat, untuk menjadi manusia yang utuh.

















