Bagi anak muda Cimahi zaman now, menonton film berarti pergi ke mall, duduk di kursi empuk ber-AC, dengan layar digital super jernih dan suara Dolby Atmos. Tiketnya dipesan online, tidak perlu antre.
Tapi, coba tanyakan pada Ayah, Ibu, atau bahkan Kakek-Nenek Anda tentang bagaimana rasanya nonton bioskop di Cimahi pada era 80-an atau 90-an. Mata mereka pasti akan berbinar, lalu meluncurlah cerita tentang antrean yang mengular, kursi kayu yang keras, hingga sensasi “misbar” (gerimis bubar) meski tidak harfiah.
Sebelum era Cinepolis atau XXI menyerbu, Cimahi pernah punya “raja-raja” hiburan layar lebar yang kini hanya tinggal nama. Mari kita putar waktu sejenak.
1. Bioskop Rio: Sang Primadona di Tagog
Siapa warga asli Cimahi yang tidak tahu Bioskop Rio? Terletak strategis di kawasan Tagog (sekarang menjadi pusat perbelanjaan elektronik/gadget), Bioskop Rio adalah legenda.
Dulu, Rio adalah tempat paling hits untuk ngabuburit atau malam mingguan. Ciri khasnya yang paling ikonik adalah poster film lukisan tangan yang terpampang besar di depan gedung. Ada seniman khusus yang melukis wajah Rhoma Irama, Warkop DKI, atau bintang laga Barry Prima dengan gaya yang dramatis.
Tiketnya masih berupa kertas sobekan kecil. Di dalamnya? Jangan harap AC dingin. Kipas angin besar yang berputar bising adalah satu-satunya penyelamat dari udara pengap, bercampur dengan asap rokok penonton yang saat itu masih bebas mengepul.
2. Bioskop Santa: Markasnya Anak Sekolah dan Tentara
Bergeser sedikit ke arah Stasiun Cimahi, ada Bioskop Santa. Lokasinya yang dekat dengan kawasan militer dan sekolah membuat bioskop ini punya segmen tersendiri.
Bioskop Santa sering menjadi “tempat pelarian” bagi siswa-siswa nakal yang bolos sekolah (jangan ditiru ya!). Film-film yang diputar bervariasi, mulai dari film India yang durasinya berjam-jam, hingga film laga Mandarin. Suasana di Santa itu unik; riuh, rakyat banget, dan penuh dengan pedagang asongan yang menyelinap masuk menjajakan kacang rebus atau permen saat film sedang diputar.
3. Bioskop Arion dan Sederet Nama Lainnya
Di kawasan Cibabat, ada juga Bioskop Arion. Meski mungkin tidak se-legendaris Rio, Arion tetap punya tempat di hati warga Cimahi Utara. Ada juga Bioskop Dewi dan beberapa layar tancap keliling yang sering mampir ke lapangan-lapangan di kelurahan saat ada hajatan besar.
Runtuhnya Era Layar Lebar Klasik
Memasuki tahun 2000-an, kejayaan bioskop-bioskop ini mulai meredup. Munculnya VCD dan DVD bajakan membuat orang lebih memilih nonton di rumah. Ditambah lagi dengan standar kenyamanan yang berubah dan pembangunan mall-mall modern.
Satu per satu, bioskop-bioskop tua di Cimahi gulung tikar.
Gedung Bioskop Rio dibongkar, berubah fungsi menjadi ruko. Bioskop Santa pun senasib, tertelan oleh pembangunan kota yang semakin padat.
Kenangan yang Tak Tergusur
Kini, fisik bangunan-bangunan itu mungkin sudah hilang atau berubah wujud. Tapi, kenangannya tidak bisa digusur.
Suara proyektor yang berdegung kasar, teriakan penonton saat film putus di tengah jalan (“Woy, putus woy!”), hingga momen malu-malu memegang tangan pacar di kursi kayu yang keras, adalah romansa sejarah kota ini.
Cimahi mungkin sudah modern. Tapi jejak Bioskop Rio, Santa, dan Arion mengajarkan kita bahwa kebahagiaan dulu itu sederhana. Cukup dengan tiket murah dan film Warkop DKI, satu gedung bisa tertawa bersama melupakan beban hidup.





