Dalam beberapa tahun terakhir, kata viral menjadi penanda utama sebuah informasi dianggap penting. Ukuran keberhasilannya sederhana: dibagikan banyak orang, dibicarakan di berbagai platform, dan muncul berulang kali di linimasa. Namun, popularitas sebuah kabar tidak selalu berjalan seiring dengan nilai informasinya.
Di ruang digital, sesuatu bisa menjadi viral karena banyak alasan—emosi, kontroversi, atau bahkan kesalahpahaman. Informasi yang memancing amarah atau rasa takut cenderung lebih cepat menyebar dibandingkan kabar yang membutuhkan pemahaman mendalam. Akibatnya, publik sering kali bereaksi lebih cepat daripada berpikir.
Fenomena ini menempatkan masyarakat pada posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, keterbukaan informasi memberi kesempatan bagi siapa pun untuk mengetahui berbagai peristiwa secara cepat. Di sisi lain, derasnya arus kabar membuat batas antara fakta, opini, dan spekulasi menjadi semakin tipis.
Media memiliki peran penting dalam kondisi tersebut. Tidak hanya menyampaikan apa yang sedang ramai dibicarakan, tetapi juga memberi konteks: apa yang sebenarnya terjadi, mengapa hal itu penting, dan sejauh mana dampaknya bagi publik. Ketika media hanya mengikuti arus viral tanpa verifikasi yang memadai, risiko kesalahan informasi menjadi semakin besar.
Di tengah situasi ini, publik juga dituntut lebih kritis. Membaca judul saja tidak cukup, membagikan informasi tanpa memahami isinya justru memperpanjang rantai kebingungan. Sikap selektif dan kehati-hatian menjadi kunci agar ruang digital tetap sehat.
Viral seharusnya tidak menjadi tujuan utama, melainkan konsekuensi dari informasi yang memang relevan dan bermanfaat. Informasi yang baik tidak selalu paling ramai, tetapi paling mampu memberi pemahaman. Di situlah peran jurnalisme tetap dibutuhkan—menjadi penyeimbang di tengah kebisingan.





