Ada sesuatu tentang aroma asap sate yang tertiup angin sore atau bunyi “ting-ting” tukang bakso yang lewat di depan rumah yang tidak bisa digantikan oleh restoran berbintang mana pun. Kuliner bukan sekadar soal rasa di lidah, tapi soal bagaimana indra perasa kita mampu memanggil kembali memori yang sudah lama terkubur.
Di sudut-sudut Cimahi, dari deretan kedai tua di sekitar Pasar Antri hingga penjual kupat tahu yang sudah berjualan puluhan tahun, makanan adalah mesin waktu yang paling jujur.
Bukan Sekadar Resep, Tapi Cerita
Pernahkah kamu merasa sebuah masakan terasa lebih enak justru karena tempatnya sederhana? Mungkin karena di sana ada “bumbu” tambahan bernama kehangatan manusia. Sang penjual yang hafal selera pedasmu, atau meja kayu yang sudah goyang termakan usia namun menyimpan ribuan tawa pelanggan sebelumnya.
Kita sering kali terjebak dalam pencarian tempat-tempat baru yang estetik demi konten media sosial. Namun, pada akhirnya, ketika hati sedang lelah, kita pasti akan kembali ke warung langganan yang sama. Ke tempat di mana kita tidak perlu berpura-pura, tempat yang mengingatkan kita pada nasihat orang tua atau tawa masa sekolah.
Momen mencicipi kembali rasa yang akrab ini sering kali menjadi cara kita untuk pulang ke diri sendiri, melepaskan segala topeng kedewasaan dan kembali menjadi anak kecil yang bahagia hanya karena sepiring hidangan hangat.
Melawan Lupa Lewat Rasa
Dunia berubah dengan sangat cepat. Kafe-kafe kekinian datang dan pergi, tren makanan berubah setiap bulan. Namun, kuliner legendaris tetap bertahan bukan karena mereka mengikuti zaman, tapi karena mereka menjaga identitas. Mereka adalah penjaga cerita kota yang tidak tertulis di buku sejarah.
Saat kita mengunyah camilan tradisional atau menyeruput kopi di kedai tua, kita sebenarnya sedang ikut menjaga warisan budaya. Kita sedang menghargai tangan-tangan yang tetap setia pada resep warisan meskipun bahan baku semakin mahal dan zaman semakin canggih.
Penutup
Makanan adalah bahasa cinta yang paling universal. Ia mampu menyatukan orang-orang dari latar belakang berbeda di atas meja yang sama. Jadi, cobalah sesekali luangkan waktu untuk mengunjungi kembali penjual makanan favoritmu saat kecil. Sapa mereka, tanyakan kabarnya, dan nikmati setiap suapannya dengan penuh kesadaran.
Sebab, di dalam sepiring makanan sederhana itu, sering kali tersimpan kebahagiaan yang paling mewah.











