Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini

Ketika Publik Mulai Lelah dengan Berita Negatif

25
×

Ketika Publik Mulai Lelah dengan Berita Negatif

Share this article

Tidak sedikit pembaca yang secara sadar mulai menghindari berita. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena merasa lelah. Judul-judul yang keras, konflik yang berulang, dan nada pemberitaan yang serba mendesak perlahan menciptakan kejenuhan. Fenomena ini dikenal sebagai news fatigue, dan semakin sering ditemui di tengah masyarakat digital.

Kelelahan terhadap berita bukan berarti publik anti-informasi. Justru sebaliknya, banyak orang masih ingin tahu apa yang terjadi, tetapi dengan cara yang lebih manusiawi. Informasi yang memberi konteks, bukan sekadar tekanan. Penjelasan yang membantu memahami, bukan hanya memancing reaksi.

ads
Example 300x600

Di ruang digital, berita negatif memang lebih mudah menarik perhatian. Emosi bekerja lebih cepat dibandingkan logika. Namun ketika setiap hari pembaca disuguhi konflik dan ketegangan, dampaknya bisa berbalik arah: apatisme. Publik memilih diam, menggulir layar tanpa membaca, atau berhenti mengikuti sumber berita tertentu.

Kondisi ini menjadi tantangan bagi media. Bagaimana tetap menyampaikan realitas tanpa menambah beban psikologis pembaca. Bukan berarti menutupi fakta, tetapi menyajikannya dengan proporsi dan sudut pandang yang lebih utuh. Informasi tidak selalu harus keras untuk menjadi penting.

Dalam konteks ini, pembaca juga mulai mencari alternatif. Artikel reflektif, analisis ringan, dan tulisan yang mengajak berpikir perlahan mendapatkan tempat. Fenomena viral tetap ada, tetapi tidak selalu menjadi rujukan utama. Sebagian publik mulai lebih selektif, sebagaimana dibahas dalam artikel sebelumnya tentang bagaimana viral sering kali disalahartikan sebagai ukuran kebenaran
👉 https://infocimahi.id/membaca-ulang-arti-viral-di-tengah-arus-informasi-digital/

Media yang mampu membaca perubahan ini memiliki peluang untuk tetap relevan. Dengan menjaga jarak dari sensasionalisme dan memberi ruang pada pemahaman, media tidak hanya menjadi penyampai kabar, tetapi juga teman berpikir bagi pembacanya.

Pada akhirnya, kebutuhan publik terhadap informasi tidak berkurang—yang berubah adalah harapannya. Di tengah dunia yang bising, informasi yang tenang justru semakin dicari.

Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *