Berjalan kaki di sepanjang Jalan Baros saat matahari baru saja condong ke barat selalu memberikan sensasi seperti sedang menembus lorong waktu. Di sisi kiri dan kanan, bangunan-bangunan tua dengan arsitektur khas kolonial berdiri kokoh, menjadi saksi bisu bagaimana Cimahi tumbuh dari sebuah pos militer kecil menjadi kota otonom yang mandiri.

Wajah Lama di Tengah Modernitas
Ada sesuatu yang magis pada dinding-dinding putih tebal dan jendela kayu besar di kawasan militer ini. Meskipun kendaraan modern terus menderu di aspalnya, aura “Kota Hijau” tetap terasa kental. Bangunan-bangunan ini seolah menolak untuk tunduk pada zaman, tetap tegak meski di sekelilingnya ruko-ruko minimalis mulai bermunculan.
Namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa perubahan adalah sebuah keniscayaan. Seperti yang pernah saya tulis dalam catatan saat musim berganti, cimahi tak henti berbenah, pembangunan fisik memang tidak bisa dihindari demi kemajuan. Namun, tantangan terbesarnya adalah bagaimana kita tetap menjaga “ruh” sejarah ini agar tidak terkikis habis oleh beton-beton baru yang terus tumbuh.
Merawat Ingatan Kolektif
Seringkali kita terlalu fokus pada hari esok hingga lupa pada apa yang sudah membentuk kita hari ini. Baros, dengan segala sisa kejayaannya, adalah pengingat bahwa Cimahi punya fondasi yang kuat. Bukan sekadar deretan barak tentara, tapi simbol kedisiplinan dan ketangguhan yang sudah mendarah daging bagi warga kita.
Menjaga warisan sejarah bukan berarti menolak kemajuan. Justru, dengan menghargai bangunan tua ini, kita memberikan karakter pada kota. Cimahi akan terasa hambar jika hanya berisi gedung kaca dan papan iklan. Ia butuh sisa-sisa bata merah dan semen tua ini untuk tetap bercerita kepada generasi mendatang tentang siapa kita sebenarnya.
Sebuah Harapan
Sambil menikmati hembusan angin sore di bawah pohon-pohon besar yang usianya mungkin lebih tua dari kita, saya berharap pembangunan di kota ini bisa sejalan dengan pelestarian sejarahnya. Semoga Cimahi tetap bisa maju tanpa harus kehilangan jati dirinya sebagai kota yang penuh nilai sejarah.
Karena pada akhirnya, kota yang hebat bukan hanya kota yang punya gedung paling tinggi, tapi kota yang paling mampu menghargai sejarahnya sendiri.

















