Sore itu, langit di ufuk barat mulai berwarna jingga kemerahan. Saya duduk di sebuah bangku kayu di taman, memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang. Suara klakson dan deru mesin seolah menjadi simfoni harian yang tidak pernah berhenti. Di kota yang terus berkembang seperti Cimahi, kesibukan memang terasa seperti napas utama. Orang-orang bergegas pulang, mengejar waktu sebelum gelap benar-benar turun.
Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, saya menyadari satu hal: kita seringkali lebih mengenal rute jalanan kota daripada rute menuju ketenangan pikiran kita sendiri.
Belajar Berhenti Sejenak
Kita sering merasa bahwa untuk bahagia, kita harus terus bergerak. Kita harus bekerja lebih keras, belajar lebih banyak, dan tampil lebih menonjol. Namun, terkadang kebahagiaan justru datang saat kita berani berhenti. Berhenti bukan berarti menyerah, melainkan memberi izin kepada jiwa untuk mengejar ketertinggalannya dari raga yang terlalu cepat berlari.
Beberapa waktu lalu, saya sempat merenung tentang betapa pentingnya bagi kita untuk pulang ke diri sendiri dan melepaskan sejenak ketergantungan pada layar ponsel yang menyita perhatian. Ternyata, saat gadget diletakkan, dunia di sekitar kita justru menjadi lebih berwarna.
Menghargai Hal-Hal Kecil
Di sudut-sudut Cimahi, dari barisan asrama militer yang kokoh hingga kedai-kedai kopi modern yang estetik, selalu ada cerita yang terselip. Cerita tentang seorang pedagang kaki lima yang tersenyum tulus, atau tawa anak-anak yang bermain di gang sempit. Hal-hal kecil ini seringkali luput dari pandangan jika mata kita terus terpaku pada layar.
Menemukan kedamaian tidak selalu harus dengan pergi jauh ke gunung atau pantai yang sepi. Kedamaian itu bisa ditemukan saat kita mampu menikmati aroma tanah setelah hujan di halaman rumah, atau saat kita benar-benar mendengarkan cerita teman tanpa terdistraksi notifikasi.
Hidup memang akan selalu riuh. Tantangan akan selalu datang, dan kota akan semakin padat. Namun, selama kita memiliki “jangkar” di dalam diri, kita tidak akan pernah hanyut oleh arus. Mari kita sisihkan sedikit waktu setiap harinya—meski hanya lima menit—untuk sekadar bernapas dan berterima kasih pada diri sendiri atas segala upaya yang telah dilakukan.
Sebab pada akhirnya, tempat ternyaman untuk beristirahat bukanlah sebuah bangunan, melainkan kedamaian yang kita bangun di dalam hati.

















